JATISAMPURNA – Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk anak stunting dari Pemerintah Kota Bekasi melalui Puskesmas Jatisampurna dikeluhkan warga Kecamatan Jatisampurna. Menu yang dibagikan dinilai tidak sesuai standar gizi dan tidak layak.
Program PMT yang seharusnya menekan angka stunting ini teknisnya disalurkan dari puskesmas ke kelurahan, lalu diserahkan ke penerima manfaat di tiap kelurahan se-Kota Bekasi.
Namun warga menilai, menu bergizi yang dijanjikan berupa susu, telur, hingga makanan bergizi seimbang tidak terealisasi di lapangan.
“Menu yang diberikan Puskesmas Jatisampurna hanya dua macam, 3 buah dinsum atau siomay dengan kuahnya dan 3 potongan kecil buah semangka,” ujar salah satu warga penerima manfaat di Jatisampurna.
Warga mempertanyakan nilai gizi dari menu tersebut, padahal program stunting seharusnya berbasis pangan lokal bergizi tinggi.
Sesuai pedoman program nasional, bentuk PMT untuk stunting meliputi:
1. PMT Berbasis Pangan Lokal: Menggunakan bahan lokal padat gizi seperti telur, tempe, hati ayam, dan sayuran segar.
2. Makanan Tambahan Rutin: Pemberian susu, vitamin, biskuit dan suplemen gizi bagi balita, termasuk gerakan “Satu Telur Sehari”.
3. Program Makan Bergizi (MBG): Distribusi dan sosialisasi makanan bergizi untuk pencegahan stunting pada anak usia dini dan sekolah.
Warga berharap Dinas Kesehatan Kota Bekasi dan Puskesmas Jatisampurna melakukan evaluasi menu agar program pencegahan stunting tidak sekadar formalitas pembagian makanan, tetapi benar-benar memenuhi kebutuhan gizi anak.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Puskesmas Jatisampurna belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan menu PMT tersebut. (¥ud)











