BEKASI BARAT – Anggota DPRD Kota Bekasi Fraksi PDI Perjuangan, Gilang Esa Mohamad, menggelar kegiatan Reses II Tahun 2026 di Wilayah Jakasampurna, Kecamatan Bekasi Barat, Kamis (9/7/2026).
Kegiatan yang dihadiri warga, perangkat RT/RW, serta tokoh masyarakat itu menjadi ruang dialog antara masyarakat dan wakil rakyat untuk menyampaikan berbagai persoalan yang masih dihadapi di lingkungan mereka.
Dalam forum tersebut, sulitnya akses pendidikan dan keterbatasan fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya kebutuhan akan sekolah negeri dan puskesmas di Kelurahan Jakasampurna, kembali menjadi aspirasi yang paling banyak disampaikan warga. Persoalan tersebut terus berulang dalam setiap masa reses dan dinilai belum memperoleh penyelesaian yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.
Warga menyampaikan bahwa pertumbuhan penduduk yang cukup pesat belum diimbangi dengan penambahan sarana pendidikan maupun fasilitas kesehatan yang memadai. Akibatnya, banyak keluarga harus mencari sekolah ke wilayah lain yang daya tampungnya terbatas, sementara pelayanan kesehatan tingkat pertama juga dinilai belum mampu menjangkau seluruh kebutuhan masyarakat secara optimal.
Menanggapi aspirasi tersebut, Gilang menegaskan bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan hak dasar masyarakat yang harus menjadi prioritas pembangunan daerah. Menurutnya, akses pendidikan yang semakin sulit dan belum meratanya layanan kesehatan akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan.
“Persoalan sekolah negeri dan puskesmas bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi menyangkut masa depan masyarakat. Aspirasi ini akan terus kami kawal agar menjadi prioritas pemerintah daerah,” ujar Gilang.
Ia menambahkan, pembangunan tidak boleh hanya diukur dari berdirinya infrastruktur, tetapi juga dari hadirnya ruang-ruang yang mampu membentuk kualitas manusia. Menurutnya, investasi terbesar sebuah daerah bukan hanya jalan, gedung, maupun fasilitas publik, melainkan karakter generasi mudanya.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui keterlibatannya sebagai Pembina Sekolah Karakter Bhakti Oetama, sebuah gerakan pendidikan berbasis kerelawanan yang dijadwalkan mulai beroperasi pada akhir Juli, bertepatan dengan rangkaian Bulan Bung Karno. Program tersebut menjadi ruang belajar alternatif yang berfokus pada pembentukan karakter, kepemimpinan, kepedulian sosial, serta kesadaran lingkungan bagi anak-anak.
Saat ini, kegiatan belajar mengajar masih memanfaatkan fasilitas umum (fasum) di RT 07 RW 14, Kelurahan Bintara, dengan dukungan relawan yang jumlahnya masih terbatas. Meski demikian, semangat para penggerak untuk menghadirkan pendidikan yang inklusif dan dapat diakses seluruh anak terus dijaga.
“Bhakti Oetama bukan untuk menggantikan sekolah formal, tetapi menjadi ruang bagi masyarakat untuk menanamkan nilai karakter, gotong royong, dan kepemimpinan kepada generasi muda,” katanya.
Menurutnya, keberadaan Sekolah Karakter Bhakti Oetama merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia. Di tengah keterbatasan akses pendidikan yang masih dirasakan sebagian warga, inisiatif sosial tersebut diharapkan dapat menjadi pelengkap yang menumbuhkan semangat belajar, rasa tanggung jawab, serta kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
“Pembangunan sumber daya manusia tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Perlu kolaborasi semua pihak agar setiap anak memiliki kesempatan belajar, berkembang, dan menjadi generasi yang berkarakter,” tandasnya. (@nt)








