BEKASI SELATAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mulai menggeser fokus pembinaan lansia dari sekadar aktivitas rekreasi ke arah pemberdayaan ekonomi. Langkah strategis ini diwujudkan melalui perhelatan perdana Kriyaan Lansia 2025, yang tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga peluncuran platform bagi produk-produk unggulan karya lansia.
Ajang kreasi yang digelar di Plaza Patriot Candrabhaga, Sabtu (1/11/2025) malam itu, dihadiri sekitar 500 lansia. Diwarnai pertunjukan seni dan kehadiran bintang tamu, di sisi lain ada potensi ekonomi yang ditampilkan, seperti batik ecoprint hasil kreasi para lansia.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, dalam sambutannya menegaskan komitmennya untuk memperluas program sekolah lansia. “Target kami, tahun depan dapat menjangkau 3.000 lansia. Ini bukan hanya tentang jumlah, tetapi tentang nilai lebih yang bisa mereka ciptakan,” ujar Tri usai acara.
Ia menambahkan, dukungan anggaran akan difokuskan secara berkelanjutan untuk mewujudkan lansia yang tidak hanya sehat dan bahagia, tetapi juga mandiri secara ekonomi.
Penguatan aspek produktif ini secara rinci dipaparkan oleh Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), Kusnanto Saidi. Ia mengungkapkan rencana kolaborasi strategis dengan Dinas Ketahanan Pangan dan UMKM untuk mengkomersialkan hasil karya lansia.
“Kami melihat potensi nyata. Hari ini kita menyaksikan langsung batik ecoprint dan pupuk organik karya lansia yang sangat potensial untuk dikembangkan dan dipasarkan. Inilah wujud nyata dari filosofi SMART yang kami usung: Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif, dan Terhormat,” jelas Kusnanto.
Menurutnya, langkah ini adalah evolusi logis dari program sekolah lansia yang telah berjalan sejak 2022. Setelah fondasi kesehatan dan kebersamaan terbentuk melalui pemeriksaan kesehatan rutin dan pertemuan komunitas, langkah selanjutnya adalah membangun kemandirian finansial.
“Dengan komunitas yang solid, kami ingin mereka tidak hanya terhindar dari kesepian, tetapi juga menjadi pribadi yang produktif, menghasilkan karya yang bernilai ekonomi, dan pada akhirnya merasa tetap dibutuhkan serta bermartabat,” pungkas Kusnanto.
Melalui terobosan ini, Pemkot Bekasi berambisi mengubah paradigma tentang lansia dari beban menjadi aset potensial yang dapat berkontribusi aktif dalam perekonomian kota. (Jiz)









